DUDUT TERBANG

Entah apa yang merasukiku malam itu, saat itu aku sedang makan sendirian di dapur. Duduk di lantai dengan tangan kiri mengangkat piring yang berisi nasi goreng. Istri dan anak-anak sedang berada di kamar. 

Tiba tiba terdengar suara fakhir, putra pertamaku yang kini berusia 4 tahun.

"Bah, dudut"

"Dudut" 

"Inggih.. sini bawa dudut yang tadi" sahutku lagi

"Dudut bah" Dengan nada memelas Fakhir berjalan keluar dari kamar sambil membawa botol dot yang baru saja dihabiskannya. 

Setibanya di hadapanku, dilemparkannya botol dot itu tepat di wajahku. jatuh di piring nasi yang sedang ku pegang.

dot bayi, botol susu, cerita pendek

Aku kaget dan langsung marah tanpa terkontrol.

"HEH ! Kenapa kaetu !" 
"Itu kada boleh !" 

Ku ambil botol itu dari piring. Ku lempar tidak jauh dari kakinya

"Buang ja dudutnya! Kada usah lagi dudut" ucapku dengan nada yang agak keras

Seketika raut wajahnya berubah ketakutan. Dipungutnya botol dot itu.

"Buang" kataku lagi

Diapun menurut, dimasukkannya botol dot itu ke tempat sampah yang tidak jauh dariku. 

"Bah, handak dudut" pinta fakhir lagi sambil mendekat dengan muka memelas bercampur takut

"Ampih sudah dudut !" 
"Kada usah lagi, buang ja !"
"Abah kada suka kaitu! Di lempar lempar!"

Dia membalikkan badan, lalu diambilnya botol dot tadi dari tempat sampah.  

Ini harus dicuci dulu katanya sambil menyalakan keran air di tempat cuci piring yang tidak jauh darinya. Aku tetap mengacuhkannya dengan melanjutkan makan tanpa melihat ke arahnya.

Ini sudah bersih katanya lagi sambil berjalan ke arahku. 

"Bah, fakhir handak dudut" perlahan diletakkkannya botol dot di hadapanku. 
Aku tetap tidak memperdulikannya. 

"Bah, maaf" 
"Maaf, bah"
Fakhir duduk dihadapanku sambil berusaha agar aku melihat ke arahnya. Mencari perhatian.

"Heeh" jawabku perlahan dengan nada agak kesal. Aku tetap tidak menatap ke arahnya. 

Seolah menyerah, fakhir bangun sambil membawa botol dotnya kembali ke kamar. 

"Ma.. dudut" pinta fakhir kepada mamanya yang sedang rebahan di kamar. 

"Lawan babah ja" sahut istriku.

"Tidak, babahnya sedang makan" kata fakhir lagi.  
Kemudian hening tak ada suara lagi yang ku dengar dari dapur.

Sepertinya yang ku lakukan sudah melewati batas. Aku tidak pernah semarah itu dan membentaknya. 

Setelah selesai makan ku datangi dia di kamar. 
"Fakhir makan ja lah? Fakhir belum makan" Sambil ku usap kepalanya. Iya makan katanya. Akupun bangkit mengambilkan makanan ke dapur. 

Fakhir termasuk susah untuk urusan makan. Menu favoritnya adalah nasi putih dengan lauk telur dadar ditambah kecap manis. Itu saja. Tanpa ada tambahan yang lain. Kalau tidak disuapi hampir tidak mau makan. Kalau mau menyuap sendiri, makannya sedikit sekali. 

Kubawakan menu favoritnya dan duduk di sampingnya. "Ayo, baca doa dulu" kataku.

Setelah beberapa suapan, ku rangkul dan ku cium kepalanya. 

"Maaf yaa, tadi babah sarik sarik" kataku
"Iya" jawabnya sambil terus menonton video youtube

"Babah tidak suka fakhir seperti tadi"

"Iya" 

"Jangan diulangi lagi ya" sambil ku usap usap kepalanya

"Iya" jawabnya lagi.

Belum ada setengahnya dia makan. Dia bilang berhenti. Mungkin dia sudah tidak bernafsu lagi. Mungkin dia makan hanya untuk mengikuti keinginanku karena merasa bersalah. Entahlah.

Semoga apa yang telah ku lakukan tidak berdampak buruk baginya. Ada sedikit penyesalan atas apa yang ku lakukan. 

Mendidik tak semestinya begitu? Mungkin?


No comments for "DUDUT TERBANG"